+44(0) 1234 567 890 info@domainname.com

Rabu, 16 Januari 2013

Hegemoni Katolik

11.43

Share it Please

Di masa lalu memang pernah terjadi pemberangusan besar-besaran terhadap semua pihak yang menentang Gereja Katolik. Bahkan tidak salah kiranya kalau disebutkan bahwa pada masa-masa itu memang terjadi hegemoni kekuasaan Gereja Katolik. Pada saat itu, lahirlah sebuah institusi buatan Gereja yang terkenal karena kejahatan dan kekejamannya, yang disebut sebagai “Inquisisi”. Karen Armstrong, mantan biarawati yang sekarang sukses sebagai penulis, menggambarkan Inquisisi sebagai berikut:

“Sebagian besar kita tentunya setuju bahwa salah satu dari institusi Kristen yang paling jahat adalah Inquisisi, yang merupakan instrumen teror dalam Gereja Katolik sampai dengan akhir abad ke-17. Metode Inquisisi ini juga digunakan oleh Gereja Protestan untuk melakukan penindasan dan kontrol terhadap kaum Katolik di negara-negara mereka.”

Sebagian tokoh Gereja (tentu saja) berusaha melakukan pembelaan yang apologetik dalam masalah ini. Namun menurut Peter de Rosa (dalam bukunya Vicars of Christ : The Dark Side of the Papacy), hal ini hanya menambahkan unsur kemunafikan terhadap sebuah kejahatan (“it merely added hypocricy to wickedness”). Yang juga sangat mengherankan adalah bagaimana cara-cara penyiksaan dalam Inquisisi dihalalkan bahkan oleh mereka yang disebut sebagai ‘orang-orang suci’ atau rohaniwan.

Ketika pasukan Napoleon menaklukkan Spanyol pada tahun 1808, salah satu kolonelnya yang bernama Lemanouski melaporkan bahwa pastor-pastor Dominikan mengurung diri dalam biara mereka di Madrid. Ketika pasukan Lemanouski mendobrak masuk, para agen Inquisisi tersebut tidak mengakui keberadaan ruang-ruang penyiksaan dalam biara mereka. Nyatanya, memang terdapat ruang-ruang semacam itu di bawah tanah. Tempat itu dipenuhi dengan tawanan, semuanya dalam keadaan telanjang, dan beberapa di antaranya gila. Tentara Perancis yang sudah biasa melihat kekejaman dan darah sampai-sampai merasa muak dengan pemandangan itu. Ruang-ruang penyiksaan itu kemudian dikosongkan, kemudian biara tersebut diledakkan.

Robert Held, dalam bukunya yang berjudul “Inquisition” memuat foto-foto dan lukisan-lukisan yang sangat mengerikan tentang kejahatan Inquisisi pada masa-masa itu. Held memaparkan lebih dari 50 jenis dan model alat-alat penyiksaan serta berbagai metodenya. Kekejaman tersebut bervariasi mulai dari pembakaran hidup-hidup, pencungkilan mata, membelah tubuh manusia dengan gergaji, pemotongan lidah, menghancurkan kepala dengan sebuah alat khusus, mengebor kelamin wanita, dan sebagainya. Yang menarik lagi, sekitar 85 persen dari korban penyiksaan dan pembunuhan tersebut adalah perempuan. Antara tahun 1450 – 1800, diperkirakan sekitar 2 – 4 juta perempuan dibakar hidup-hidup di Eropa, baik di negara-negara Katolik maupun Protestan.

Pada saat itu, Gereja bertindak sebagai wakil Tuhan dan bisa mengatasnamakan Tuhan dalam segala tindakannya. Para pemimpin Gereja pun diakui haknya untuk mengampuni dosa manusia. Pada 31 Oktober 1517, Martin Luther memberontak pada Paus dengan mempublikasikan 95 poin pernyataan, terutama menentang praktik penjualan ‘pengampunan dosa’. Pada tahun 1521, Marthin Luther dikucilkan dari Gereja Katolik.

Pada masa itu, terjadi berbagai bentuk kekerasan atas nama agama. Pertarungan antara Katolik dan Protestan terjadi dimana-mana, misalnya di Perancis. Dunia mengenang kisah pembantaian kaum Protestan di Paris oleh kaum Katolik pada tahun 1572 yang dikenal sebagai “The St. Bartholomew’s Day Massacre”. Diperkirakan 10.000 orang mati, dan selama berminggu-minggu, jalan-jalan di Paris dipenuhi dengan mayat yang membusuk. Philip J. Adler dalam bukunya, “World Civilization” mengungkapkan kesaksian dari seorang yang selamat dari pembantaian pada hari naas tersebut :

“Tidak seorang pun dapat mengukur berbagai kekejaman yang terjadi dalam pembunuhan-pembunuhan ini… Sebagian besar mereka dimusnahkan dengan belati. Tubuh mereka ditikam, anggota tubuhnya dirusak, mereka dihina dengan cemoohan yang lebih tajam dari pedang… Mereka memukul sejumlah orang tua tanpa perasaan, membenturkan kepala mereka ke batu di dermaga dan kemudian melemparkan sosok setengah mati itu ke sungai. Seorang anak yang terbungkus pakaiannya diseret di jalan dengan tali yang dililitkan di lehernya oleh anak-anak berumur sekitar 9 atau 10 tahun. Seorang anak kecil lainnya, digendong oleh seorang penjagal, memain-mainkan jenggotnya dan tersenyum kepadanya, tetapi orang itu bukannya mengasihani si kecil, malahan kemudian menikamnya dengan belati dan kemudian melemparkannya ke sungai, yang menjadi merah karena darah dan tidak dapat kembali ke warna asalnya untuk waktu yang panjang.”

Akibat semua kekejaman ini, pada era berikutnya, yaitu pada abad ke-18, muncullah sebuah sikap anti-pemuka agama yang dikenal dengan istilah “anti-clericalism”. Ada sebuah ungkapan pada masa itu yang menyebutkan : “Beware of a woman if you are in front of her, a mule if you are behind it, and a priest whether you are in front or behind.” Kita juga tentu masih ingat kisah tentang bagaimana Galileo harus sembunyi-sembunyi mempublikasikan teorinya yang mengatakan bahwa bumi mengitari matahari, bukan sebaliknya seperti yang dinyatakan oleh Gereja. Akibatnya, Galileo sempat diancam dan dipaksa untuk meralat teorinya. Beginilah latar belakang munculnya definisi dogma seperti yang telah dijelaskan di bagian awal sebelumnya. Bagaimana pun, inilah makna ‘dogma’ yang muncul dalam benak orang-orang Eropa. Bahkan ketika disebutkan kata “religion”, mereka lantas berpikir tentang kejumudan, fanatisme, dogma yang menghancurkan, pemaksaan keyakinan, dan sebagainya. Hal ini terjadi semata-mata karena sejarah hegemoni Kristen di dataran Eropa pada masa lalu.

Pembakaran manusia

Pada saat itu, Gereja bertindak sebagai wakil Tuhan dan bisa mengatasnamakan Tuhan dalam segala tindakannya. Para pemimpin Gereja pun diakui haknya untuk mengampuni dosa manusia. Pada 31 Oktober 1517, Martin Luther memberontak pada Paus dengan mempublikasikan 95 poin pernyataan, terutama menentang praktik penjualan ‘pengampunan dosa’. Pada tahun 1521, Luther dikucilkan dari Gereja Katolik, lalu kemudian dia ditahan dan disiksa dengan dicongkel kedua matanya didalam sebuah Gereja Katolik.

Menurut Peter de Rosa (dalam bukunya Vicars of Christ : The Dark Side of the Papacy), hal ini hanya menambahkan unsur kemunafikan terhadap sebuah kejahatan (“it merely added hypocricy to wickedness”). Yang juga sangat mengherankan adalah bagaimana cara-cara penyiksaan dalam Inquisisi dihalalkan bahkan oleh mereka yang disebut sebagai ‘orang-orang suci’ atau rohaniwan.

Seperti telah dibahas di muka, bahwa peranan gereja pada masa abad pertengahan demikian berpengaruh. Pengaruh yang sangat besar ini kemudian menimbulkan penyelewengan atau pun sikap sewenang-wenang dari pihak gereja.
Kehidupan kekuasaan gereja Katolik Roma dirasa sudah melenceng dari semangat nilai kasih sayang dan kesederhanaan seperti yang diajarkan oleh Jesus Kristus sebagai tuhan mereka. Dalam kehidupan gereja banyak terjadi penyelewengan kekuasaan, korupsi, kemewahan yang berlebihan. Yang paling menimbulkan reaksi adalah komersialisasi surat pengampunan dosa.

Proses perjalanan sejarah Kristen orthodoks dalam mengembangkan sayapnya, syarat dengan eksklusivisme di setiap dakwahnya. Yang nampak kemudian di kalangan umatnya adalah eksklusivisme gereja yang sangat otoriter dimana setiap manusia (Kristen) sangat dibatasi dengan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan gereja. Bentuk orthodoksi semacam ini menimbulkan kegoncangan-kegoncangan iman, yang menantikan munculnya tuhan baru yang memberikan kebebasan seutuhnya bagi manusia.

a. Lutherisme
Martin Luther adalah pemimpin gerakan reformasi pada 31 Oktober 1517. Ia lahir pada 10 Nopember 1483 di Langestrasse, Eisleben, Jerman. Ayahnya, Hans Luther, seorang pekerja tambang tembaga dan ibunya Margarethe Lindemann. Tahun 1510, ia diutus ke Roma mengurus suatu perkara bagi Ordo Augustinus. Bulan Oktober 1512, ia mendapat gelar doktor theologis dan diangkat menjadi guru besar pada Universitas Wittenburg. Jabatan ini dia pegang sampai akhir hayatnya. Martin Luther sebagai theolog, banyak menafsirkan Alkitab. Secara berturut-turut Mazmur, Roma, Galatia dan Ibrani.
Roma I: 16-17 berbunyi: "Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya. Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis, orang benar akan hidup oleh iman".

Menurut Martin Luther di dalam nats ini ada yang tidak cocok. Sebab ia selalu mendengar bahwa "kebenaran Allah" adalah "keadilan Allah" yang sama seperti seorang hakim duniawi, membebaskan, "membenarkan" orang-orang yang baik dan menghukum orang-orang yang jahat. Dia memahami bahwa dirinya adalah seorang yang berdosa, sehingga dalam "kebenaran Allah" mau tidak mau menghukum dia. Ayat ini digumuli dan dihayati dari hari ke hari dan akhirnya ia sadar bahwa kebenaran Allah itu tidak lain dari belas kasihan Allah, yang menerima orang-orang berdosa serta putus asa terhadap dirinya sendiri, tetapi yang menolak orang-orang yang menganggap dirinya baik.

Pada tanggal 31 Oktober 1517, Martin Luther menempelkan 95 buah dalilnya di pintu gereja Wittenberg, sebagai protes atas dalil penjualan "surat-surat penghapusan siksa". Dalil-dalil tersebut, diterjemahkan oleh mahasiswa-mahasiswa ke dalam bahasa Jerman, dengan maksud agar diketahui oleh banyak orang. Cara demikian memang sangat tepat, sehingga dalam waktu singkat, sudah tersiar di seluruh Jerman.

Akibat penempelan dalil-dalil tersebut di pintu gereja, Martin Luther dituduh oleh Paus, sebagai penyesat umat. Paus Leo X menuntut agar ia menarik kembali ajaran tersebut. Ia dianggap "murtad" dan dikucilkan dan semua tulisannya dinyatakan terlarang. Hukuman dan peringatan yang dikenakan padanya, tidak dihiraukannya. Berkat bantuan teman-temannya dan pengikutnya, ia terus bekerja. Ajaran-ajarannya semakin meluas dan pengikut-pengikutnya bertambah banyak. Secara nyata Tuhan telah membimbing Martin Luther, sehingga hukuman yang dijatuhkan padanya tidak terlalu berat. Bila dilihat dari pelanggarannya, sudah seharusnya ia dijatuhkan hukuman mati.

Sekalipun dikenakan hukuman agar ajaran tersebut ditarik kembali, Martin Luther dan pengikutnya tidak mundur. Mereka tetap bekerja keras untuk mewujudkan pembaruan tersebut. Hal ini dapat kita lihat dalam tindakan dan karya, seperti menterjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Jerman, sehingga bila orang ingin belajar Alkitab, tidak harus melalui gereja atau pendeta. Ia meninggal pada tahun 1546, tetapi karya besar yang paling indah tetap abadi dan dikenang selama-lamanya. Hari Reformasi sepatutnya jangan hanya dirayakan sebagai tradisi, tetapi dijadikan sebagai waktu untuk merenungkan, apakah secara pribadi kita sudah bersaksi seperti Luther katakan, “Aku akan mati, tetapi hidup dan memberitakan karya-karya Tuhan”.

b. Calvinisme
Dalam sejarah perjalanan agama Kristen, ajaran Calvin menempati posisi penting. Dalam ajaran Calvin, ada beberapa hal yang menarik untuk dikritisi. Agama Kristen semula berisi tentang berita adanya Allah dengan kemahabesaran-Nya. Berita ini tersebar lewat Jesus Kristus yang menganjurkan kasih sayang dan keselamatan. Tuhan Allah adalah asal dan tujuan manusia. Tuhan adalah center atau titik pusat dari segala sesuatu. Dalam teologi Calvin, peran Tuhan Allah sebagai kekuatan “Yang Maha Tergusur”. Dengan konsep trinitasnya itu keistimewaan Tuhan Allah lebih banyak tergambar atau diwakili Tuhan Anak. Predestinasi adalah ajaran (doktrin) tentang keselamatan yang dipercaya telah ditentukan terlebih dahulu dari kekal sampai kekal yang dikembangkan oleh Johanes Calvin (1509-1564), salah satu reformator abad ke-XVI, karena itu biasa disebut identik dengan Calvinisme. Ajaran Calvinisme atau Predestinasi menekankan kemutlakkan otoritas Tuhan dalam menentukan rencana kehendak AnugerahNya atas ciptaan dari kekal sampai kekal. Keputusan Tuhan adalah kekal, tidak berubah, suci, adil, dan mahakuasa dan didasarkan atas pengetahuan sebelumnya atas semua peristiwa dan tidak terpengaruh oleh ciptaan atau kejadian yang berlangsung.

Dari kerangka predestinasi manusia inilah maka Tuhan memilih umatnya untuk selamat atau tidak diselamatkan dalam rangka penebusan dosa sesuai yang telah diketahuinya sebelumnya. Ajaran ini dengan jelas tidak memberi tempat pada manusia dalam hubungan dengan keselamatan, dan bila dalam Alkitab disebutkan tentang perbuatan baik atau buah-buah, itu adalah bukti keselamatan yang telah dikaruniakan Tuhan dan bukan hasil kerja manusia.

Bila Calvinisme terlalu berat menekankan pada otoritas Allah dan menghilangkan kebebasan manusia dalam memilih, Armenianisme terlalu berat terletak pada kebebasan manusia sehingga karya salib seakan-akan tidak berarti apa-apa bila manusia tidak mau menerimanya. Yang jelas Alkitab memberitahukan bahwa manusia diberi tanggung jawab dalam hidup ini untuk mentaati firman Tuhan dan melakukan kehendak Allah (Mat.7:21) tetapi kehendak manusia untuk berbuat baik itu bukan sekedar bukti keselamatan seperti yang digambarkan oleh Calvinisme. Ajaran Calvin atau Calvinisme benar-benar memberikan semangat baru dalam kehidupan manusia dan masyarakat. Masyarakat yang tadinya hanya mempunyai perhatian besar kepada masalah keagamaan, mulai memberi penghargaan pada kehidupan material ekonomi. Di satu sisi mengajarkan totalitas kebaktian pada Tuhan, namun di sisi lain mengembuskan nafas baru kehidupan duniawi. Penghargaan terhadap kehidupan duniawi ini sedikit banyak telah menyebabkan kemajuan dan kesejahteraan masyarakat pada masa itu. Suatu perkembangan yang sangat mengejutkan dalam mematahkan dominasi gereja pada abad pertengahan adalah tidak terlepas dari peran para cendekia renaissance yang tidak setuju dengan kebijakan mutlak gereja. Di antara cendekia renaissance tersebut adalah Leonardo da Lavinci, Nicholous Copernicus, Johannes Kapler, Galileo Galilie, Hugo Degrot, dan Francis Bacon. Kiprah mereka dalam mendobrak kemapanan gereja sebagai institusi yang tidak lagi dianggap mutlak oleh seluruh umat manusia pada saat itu. Bahkan secara tidak terduga semua kepercayaan gereja beralih secara dramatis, terutama setelah meledaknya revolusi Perancis dan revolusi Inggris di Eropa. Setelah zaman renaissance dan reformasi, gereja hanya mewakili sektor spiritual kehidupan manusia. Sedangkan dalam dimensi kehidupan lain gereja tidak lagi mempunyai peranan yang berarti, karena gereja sendiri sesungguhnya tidak memiliki ajaran yang cukup komprehensif untuk menjawab setiap perkembangan zaman yang begitu kompetitif.

Setelah melalui proses panjang yang sangat kelam tersebut maka berdirilah sebuah aliran kepercayaan baru yang bernama Protestan karena berawal dari sebuah 'protes' oleh pihak pihak yang tidak setuju dengan kesewenang wenangan gereja katolik  

0 komentar:

Poskan Komentar

Temukan Kemudahan dan Keindahan Islam Setelah Membaca Artikel Kami. Berilah Komentar Atau Tinggalkan Pertanyaan Anda Sehingga Kita dapat Memperkuat Silaturrahim. Jazaakallahu Ahsanal Jazaa'

Populer Mingguan