+44(0) 1234 567 890 info@domainname.com

Jumat, 30 November 2012

Ada Bukti Keselamatan Yesus Dari Penyaliban?

09.43

Share it Please


Penyaliban adalah inti keimanan Kristiani,Bagi Kristiani, penyaliban adalah jalan keselamatan satu-satunya dalam memperoleh hidup yang kekal.

Dogma penebusan dosa melalui penyaliban tercipta berdasarkan adanya keyakinan terhadap dosa waris yang semuanya diciptakan oleh oknum yang sama, Paulus dari Tarsus. Disini kita tidak akan membahas mengenai kepalsuan dogma penebusan dosa ataupun dosa waris, tapi kita akan menguak kepalsuan kematian Yesus diatas kayu salib melalui persepsi Bible sendiri, dengan kata lain, akan kita buktikan bersama bahwa Yesus tidak mati diatas kayu salib berdasarkan Bible!

Kronologis kejadian dari Bible sendiri yang akan kami paparkan berikut mengenai peristiwa dugaan kematian Yesus dalam penyaliban sebelum dan sesudahnya akan membuktikan kebenaran tersebut.

Persiapan Untuk Jihad

Yesus sebelumnya telah mengetahui akan rencana Yahudi untuk menangkap dan membunuhnya, hal tersebut telah diucapkannya dengan menubuatkan Yudas yang akan menyerahkannya. Hal yang menjadi sorotan adalah bahwa Yesus tidak mau hanya duduk dan menunggu ditangkap oleh kaum Yahudi. Dia menyiapkan murid-muridnya akan adanya bentrokan dan pertikaian, dan persiapan akan senjata adalah hal yang diperlukan.

Lukas 22:35-36
22:35 Lalu Ia berkata kepada mereka: “Ketika Aku mengutus kamu dengan tiada membawa pundi-pundi, bekal dan kasut, adakah kamu kekurangan apa-apa?”
22:36 Jawab mereka: “Suatu pun tidak.” Kata-Nya kepada mereka: “Tetapi sekarang ini, siapa yang mempunyai pundi-pundi, hendaklah ia membawanya, demikian juga yang mempunyai bekal; dan siapa yang tidak mempunyainya hendaklah ia menjual jubahnya dan membeli pedang.

Ini adalah persiapan untuk perang, untuk melakukan Jihad! Murid-muridnya telah dipersenjatai. Mereka telah mempunyai gambaran hal yang akan terjadi selanjutnya. Mereka tidak mau menyerah bergitu saja dijadikan bulan-bulanan kaum Yahudi tanpa adanya perlawanan yang berarti.

Lukas 22:38 Kata mereka: “Tuan, ini dua pedang.” Jawab-Nya: “Sudah cukup.”

Senjata telah siap, perlawanan akan dilakukan. Kristiani sering memberikan asumsi bahwa pedang yang dimaksud Yesus adalah pedang roh. Entah apa maksud dari pedang roh tersebut, namun jika yang dimaksud tersebut adalah pedang roh, lalu jubah apa yang dimaksud untuk dijual Yesus? Jubah roh? Apa pula maksud dari dua pedang yang telah murid-muridnya siapkan? Dan yang terpenting, pedang roh tentu tidak akan dapat memutuskan telinga seorang hamba Imam Besar.

Matius 26:51 Tetapi seorang dari mereka yang menyertai Yesus mengulurkan tangannya, menghunus pedangnya dan menetakkannya kepada hamba Imam Besar sehingga putus telinganya.

Dalam hal ini Yesus sama sekali tidak membicarakan tentang pedang roh, satu-satunya pedang yang dimaksud Yesus tersebut adalah pedang untuk melukai, untuk melakukan perlawanan, untuk membela diri.

Hal yang seharusnya menjadi pertanyaan, jika saat itu Yesus ingin melakukan perang, mengapa dua pasang pedang saja sudah cukup? Hal ini dapat dimengerti bahwa Yesus belum tahu kondisi diluar jangkauannya mengenai seberapa besar pasukan Romawi yang akan menangkapnya, Yesus tidak bermaksud melakukan pertumpahan darah besar-besaran dengan tentara Romawi, dia hanya ingin menunjukkan bahwa dia bukanlah mangsa yang dapat ditangkap dengan mudah. Alasan lain yang dapat dijadikan patokan adalah masalah keuangan yang tidak memungkinkan, Yesus hanya menyuruh murid yang memiliki jubah untuk dijual dalam membeli pedang.

Yesus mengetahui kesetiaan murid-muridnya yang menyertainya saat itu yang bersedia berkorban dan mati demi dirinya. Dengan senjata yang seadanya serta rasa percaya diri dan keyakinan terhadap gurunya, murid-murid Yesus yakin dapat memenangkan pertempuran dalam menghadapi kaum Yahudi.

Ahli Siasat Dan Strategi

Senjata dan keberanian telah siap dalam menghadapi hal yang tidak diinginkan, strategi dan benteng pertahanan tentu adalah hal yang juga perlu dipersiapkan dalam peperangan. Di Getsemani lah Yesus mengatur hal tersebut. Getsemani adalah tempat Yesus dan murid-muridnya bersama sebelum penyaliban, peristiwan di Getsemenai adalah saat-saat terakhir Yesus sebelum diserahkan untuk disalib.

Yesus telah membuktikan bahwa dirinya mempunyai keahlian dalam mengatur strategi dan rencana, peka terhadap sinyal-sinyal bahaya dan banyak akal. Saat itu bukan waktunya untuk duduk dan ongkang-ongkang kaki untuk menjadi sasaran empuk bagi musuh-musuhnya. Suatu malam, sewaktu sedang menuju Getsemani (Bukit Zaitun) dengan suatu bangunan berdinding batu yang jauhnya 5 mil dari kota, dia menggambarkan betapa seriusnya situasi saat itu. Resiko yang harus dihadapi apabila mereka gagal dalam serangan ini.

Anda tidak perlu menjadi anggota militer yang jenius untuk menilai itu. Yesus menunjukkan kekuatannya sebagai ahli siasat yang lihai dan pandai dalam mengatur ‘prajurit’nya. Yesus menempatkan delapan dari sebelas muridnya pada pintu masuk bangunan tersebut.

Matius 26:36 Maka sampailah Yesus bersama-sama murid-murid-Nya ke suatu tempat yang bernama Getsemani. Lalu Ia berkata kepada murid-murid-Nya: “Duduklah di sini, sementara Aku pergi ke sana untuk berdoa.”

Pertanyaan yang mengganggu para pemikir adalah: “Mengapa mereka semua pergi ke Getsemani?” Untuk beribadah? Apakah mereka tidak bisa pergi ke kuil Sulaiman yang mereka lewati apabila tujuan mereka hanya untuk beribadah? Tidak! Mereka pergi ke kebun itu sehingga mereka berada pada posisi yang lebih baik untuk membela diri dari serangan musuh.

Perhatikan, Yesus tidak mengajak kedelapan muridnya untuk beribadah. Dia menempatkan muridnya secara strategis pada pintu masuk kebun, mempersenjatai dengan pedang, karena situasi yang mungkin terjadi.

Matius 26:37-38
26:37 Dan Ia membawa Petrus dan kedua anak Zebedeus serta-Nya. Maka mulailah Ia merasa sedih dan gentar,
26:38 lalu kata-Nya kepada mereka: “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku.”

Kemana dia membawa Petrus serta Yohanes dan Yakobus (dua anak Zebedeus) sekarang? Ke dalam kebun itu! Apakah untuk beribadah? Tidak! Untuk membuat jalur pertahanan. Dia menempatkan delapan orang itu pada pintu masuk dan sekarang ketiga murid lainnya yang terkenal fanatik dan bersemangat, dipersenjatai dengan pedang, hanya untuk ‘menunggu dan mengawasi’, untuk mengawal! Gambaran ini sangat gamblang. Yesus tidak memberikan gambaran apa pun bagi kita. Dan dia sendiri hanya berdoa!

Doa Yesus Di Getsemani

Matius 26:38-39
26:38 lalu kata-Nya kepada mereka: “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah dengan Aku.”
26:39 Maka Ia maju sedikit, lalu sujud dan berdoa, kata-Nya: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.”

Doa Yesus diatas adalah bentuk permohonan Yesus agar dibebaskan dari cawan kematian. Frasa ‘cawan’ dalam ayat tersebut bermaksud percobaan dan fitnah Yahudi, dimana Yahudi ingin membuktikan bahwa Yesus adalah mesias palsu dengan cara menyalibnya, penyaliban itulah pencobaannya. Sehingga dengan kata lain maksudnya kematian dalam penyaliban. Jadi Yesus berdoa agar terbebas dari kematian dalam penyaliban.

Dari doa Yesus diatas, sudah menunjukkan fakta kepada kita, yaitu:

Pertama, Yesus tidak ingin mati dikayu salib.
Kedua, Yesus tidak mengenal penebusan dosa oleh penyaliban.

Yesus telah berdoa penuh dengan hikmat dalam mengharapkan pertolongan Allah, pertanyaan selanjutnya adalah apakah doa Yesus dikabulkan?

Ibrani 5:7 Dalam hidupNya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada DIA, yang sanggup menyelamatkanNya dari maut, dan karena kesalehanNya Ia telah didengarkan.

Ayat diatas telah cukup menjelaskan bahwa doa Yesus dikabulkan Allah, dimana Yesus berdoa penuh ratap tangis dan keluhan untuk diselamatkan dari maut. Adakah Kristiani yang bersedia mengatakan doa Yesus tidak didengar oleh Allah?

Perubahan Strategi Diluar Rencana

Senjata telah siap, jalur pertahanan telah sesuai, lalu mengapa akhirnya Yesus tertangkap juga oleh tentara Romawi? Yesus telah salah perhitungan. Melihat antusiasme yang ditunjukkan oleh murid-muridnya pada acara perjamuan malam, dia yakin bahwa mereka bisa melawan Yahudi yang akan menangkapnya. Namun kenyataannya, ternyata Yahudi lebih cerdik dari apa yang dipikirnya, mereka membawa tentara Romawi bersama mereka.

Yohanes 18:3 Maka datanglah Yudas juga ke situ dengan sepasukan prajurit dan penjaga-penjaga Bait Allah yang disuruh oleh imam-imam kepala dan orang-orang Farisi lengkap dengan lentera, suluh dan senjata.

Disamping itu karena kelalaian yang telah dilakukan murid-muridnya dijalur pertahanan yang telah membuat Yesus kecewa. Kelalaian itu adalah tertidur disaat-saat genting.

Matius 26:40 Setelah itu Ia kembali kepada murid-murid-Nya itu dan mendapati mereka sedang tidur. Dan Ia berkata kepada Petrus: “Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku?
Markus 14:37 Setelah itu Ia datang kembali, dan mendapati ketiganya sedang tidur. Dan Ia berkata kepada Petrus: “Simon, sedang tidurkah engkau? Tidakkah engkau sanggup berjaga-jaga satu jam?

Yesus memperingatkan murid-muridnya untuk berjaga sebentar lagi, tapi lagi-lagi muridnya mengabaikan perintah Yesus tersebut.

Markus 14:40 Dan ketika Ia kembali pula, Ia mendapati mereka sedang tidur, sebab mata mereka sudah berat dan mereka tidak tahu jawab apa yang harus mereka berikan kepada-Nya.

Hal tersebut membuat Yesus pasrah terhadap hal yang akan terjadi padanya, dan dia tidak ingin mengambil resiko.

Matius 26:44-45
26:44 Ia membiarkan mereka di situ lalu pergi dan berdoa untuk ketiga kalinya dan mengucapkan doa yang itu juga.
26:45 Sesudah itu Ia datang kepada murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Tidurlah sekarang dan istirahatlah. Lihat, saatnya sudah tiba, bahwa Anak Manusia diserahkan ke tangan orang-orang berdosa.

Murid-muridnya tertangkap ketika mereka sedang lengah dan dalam keadaan mengantuk, persiapan mereka selama ini buyar sudah. Mereka tidak mungkin mengalahkan sepasukan tentara Romawi yang sedia dengan pedang dan tameng serta keahlian militer yang mumpuni dalam keadaan mengantuk dan tidak ada persiapan. Yesus mengetahui resiko apa yang akan terjadi jika mereka melawan, Yesus berencana melakukan perubahan strategi. Meskipun begitu, beberapa muridnya masih sangat yakin akan keberanian mereka.

Lukas 22:49 Ketika mereka, yang bersama-sama dengan Yesus, melihat apa yang akan terjadi, berkatalah mereka: “Tuhan, mestikah kami menyerang mereka dengan pedang?”

Tetapi sebelum Yesus menjawab pertanyaan tersebut, Petrus yang pemberani mengeluarkan pedang dan menghunus salah seorang penangkapnya sehingga terpotong telinganya.

Matius 26:51 Tetapi seorang dari mereka yang menyertai Yesus mengulurkan tangannya, menghunus pedangnya dan menetakkannya kepada hamba Imam Besar sehingga putus telinganya.

Yesus tidak melawan tentara Romawi tersebut. Menyadari bahwa situasi sudah berbalik dan tidak berjalan sesuai dengan strateginya, dia menasihatkan murid-muridnya.

Matius 26:52 Maka kata Yesus kepadanya: “Masukkan pedang itu kembali ke dalam sarungnya, sebab barangsiapa menggunakan pedang, akan binasa oleh pedang.

Apakah Yesus tidak mengetahui makna dari pernyataannya ketika dia menyuruh murid-muridnya untuk menjual jubahnya dan membeli pedang? Tentunya dia tahu! Lalu mengapa sekarang malah bertentangan? Sebenarnya tidak ada pertentangan. Situasi telah berubah, jadi strategi harus juga dirubah. Dia menyadari bahwa melawan tentara yang terlatih dan bersenjatakan lengkap dengan mengandalkan pasukannya yang masih mengantuk dan tidak siap, hanya merupakan tindakan bunuh diri.

Yohanes 18:12 Maka pasukan prajurit serta perwiranya dan penjaga-penjaga yang disuruh orang Yahudi itu menangkap Yesus dan membelenggu Dia.

Yesus telah melakukan perubahan strategi, yaitu “menyerahlah untuk menang”, atau bahasa harfiahnya “menyerahlah untuk tidak mati”. Yesus tertangkap, diseret kehadapan pengadilan musuh-musuhnya.

Pengadilan Di Hadapan Imam Besar

Perjalanan menuju Yerusalem telah gagal. Penyerangan di bukit Zaitun telah membuktikan kegagalan. Apabila ada hadiah bagi keberhasilan maka akan ada pula balasan untuk kegagalan. Lawan sangat berat, Ditambah dengan adanya kesengsaraan, cobaan, keringat dan darah.

Dengan tangan-tangan yang kuat, tentara-tentara Romawi menyeret tubuh Yesus dari Getsemani ke Annas dan dari Annas ke Mahkamah Agama dan dipertemukan dengan Uskup Agung dan sebagaimana yang ditunjukkan kaum Yahudi ke Sanhedrin, untuk menghadapi pengadilan dan hukuman.

Matius 26:57 Sesudah mereka menangkap Yesus, mereka membawa-Nya menghadap Kayafas, Imam Besar. Di situ telah berkumpul ahli-ahli Taurat dan tua-tua.

Ketika jiwa Yesus terancam dalam sidang pengadilan musuh-musuhnya, murid-muridnya justru enggan menampakkan batang hidungnya. Para murid yang dari awal mengaku bersedia untuk mati demi Yesus sewaktu perjamuan terakhir, menampakkan kesetiaan dalam strategi penyerangan di Getsemani, sekarang bungkam dan seakan tidak perduli.

Markus 14:50 Lalu semua murid itu meninggalkan Dia dan melarikan diri.

Belum usai penderitaan akan kegagalan Yesus dalam penyerangan di Getsemani, dia juga akhirnya ditinggalkan murid-muridnya yang diyakini setia terhadapnya. Yesus melawan tuduhan Imam Besar dan para ahli-ahli Taurat, sendirian.

Matius 26:59-60
26:59 Imam-imam kepala, malah seluruh Mahkamah Agama mencari kesaksian palsu terhadap Yesus, supaya Ia dapat dihukum mati,
26:60 tetapi mereka tidak memperolehnya, walaupun tampil banyak saksi dusta. Tetapi akhirnya tampillah dua orang,

Pengadilan tersebut hanya sandiwara, bagaimanapun keputusan para musuh Yesus tersebut sudah terekonstruksi sejak awal, Yesus harus disalibkan. Tapi Yesus tidak dapat menahan diri untuk membela diri, Yesus adalah oknum tidak bersalah yang ‘keras kepala’, meskipun dia tahu keputusan apa yang ada dalam hati para pengadilnya yang tidak adil tersebut untuk dirinya.

Yohanes 18:19-23
18:19 Maka mulailah Imam Besar menanyai Yesus tentang murid-murid-Nya dan tentang ajaran-Nya.
18:20 Jawab Yesus kepadanya: “Aku berbicara terus terang kepada dunia: Aku selalu mengajar di rumah-rumah ibadat dan di Bait Allah, tempat semua orang Yahudi berkumpul; Aku tidak pernah berbicara sembunyi-sembunyi.
18:21 Mengapakah engkau menanyai Aku? Tanyailah mereka, yang telah mendengar apa yang Kukatakan kepada mereka; sungguh, mereka tahu apa yang telah Kukatakan.”
18:22 Ketika Ia mengatakan hal itu, seorang penjaga yang berdiri di situ, menampar muka-Nya sambil berkata: “Begitukah jawab-Mu kepada Imam Besar?”
18:23 Jawab Yesus kepadanya: “Jikalau kata-Ku itu salah, tunjukkanlah salahnya, tetapi jikalau kata-Ku itu benar, mengapakah engkau menampar Aku?”

Ada hal yang perlu ditinjau ulang dalam keyakinan Kristiani mengenai hal ini. Kristiani menisbahkan beberapa nubuat dalam Perjanjian Lama kepada Yesus untuk menunjukkan bahwa takdir Yesus memang adalah untuk disalibkan, salah satunya ayat Yesaya berikut:

Yesaya 53:7 Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya.

Tapi anda telah menyaksikan sendiri bahwa Yesus tidak hanya diam dihadapan musuhnya, mulai dari sebelum ditangkap sampai dalam pengadilan. Yesus memberikan pembelaan terhadap dirinya dan tidak sesuai dengan maksud nubuat tersebut. Lagi, Kristiani menisbahkan nubuat yang salah kepada Yesus yang disangka Yesus sebagai penggenapannya, dan masih banyak berbagai klaim nubuat tidak cocok lainnya yang dapat anda teliti sendiri.

Nasib Yesus sudah diputuskan. Imam Besar di Mahkamah Agama (Kepala Imam-imam Yahudi) adalah orang yang mengambil keputusan pada setiap pengadilan sipil berdasarkan persangkaannya terhadap terdakwa. Dia telah memutuskan bahwa Yesus harus mati, tanpa mendengar persidangan pembelaan dan lain-lain. Dia telah merekomendasikan kepada mahkamah untuk membunuh Yesus bahkan sebelum terjadi kasus tersebut.

Yohanes 11:50 dan kamu tidak insaf, bahwa lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita dari pada seluruh bangsa kita ini binasa.”

orang Yahudi tentu tidak  mengimani bahwa Yesus adalah penebus dosa manusia, lalu apa maksud bahwa Yesus mati untuk seluruh bangsa?

Yohanes 47-48
11:47 Lalu imam-imam kepala dan orang-orang Farisi memanggil Mahkamah Agama untuk berkumpul dan mereka berkata: “Apakah yang harus kita buat? Sebab orang itu membuat banyak mujizat.
11:48 Apabila kita biarkan Dia, maka semua orang akan percaya kepada-Nya dan orang-orang Roma akan datang dan akan merampas tempat suci kita serta bangsa kita.”
Yohanes 11:53 Mulai dari hari itu mereka sepakat untuk membunuh Dia.

Jadi, yang dimaksud tebusan untuk orang banyak adalah tidak lebih bahwa Yesus semacam tumbal untuk menghindari amuk orang Romawi. Para imam Yahudi tidak ingin Yesus banyak pengikut yang dapat menggeserkan kekuasaan mereka sehingga jalan satu-satunya adalah membunuh Yesus. Pada dasarnya tidak ada dosa yang harus ditebus, bagaimanapun kematian diatas kayu salib adalah suatu bentuk kutuk dan penghinaan dan inilah yang diinginkan oleh orang Yahudi.

Kaum Yahudi telah salah menilai Yesus bahwa dia menghina dan berkhianat terhadap ajaran agama. Kristen adalah sama dengan Yahudi dalam hal menghina Yesus, tetapi masalahnya berbeda. Baik Yahudi maupun Kristen keduanya menginginkan Yesus mati. Satu untuk “kekuasaan diri” dan yang satu lagi untuk “penebusan dosa”, dan tidak ada dari keduanya yang benar. Yesus tidak mempunya hasrat menghasut bangsa Romawi merebut tempat suci, dan Yesus juga tidak pernah punya keinginan menebus dosa manusia serta tidak punya pengetahuan apapun soal penebusan diatas kayu salib yang merupakan dogma Paulus.

Pengadilan Di Hadapan Pilatus

Matius 27:2 Mereka membelenggu Dia, lalu membawa-Nya dan menyerahkan-Nya kepada Pilatus, wali negeri itu.

Keputusan diambil dengan cepat dan bulat. Tapi tanpa izin tentara Romawi, mereka tidak bisa menghukumnya. Pagi-pagi sekali, mereka membawa Yesus ke Pilatus, karena seperti yang mereka katakan:

Yohanes 18:31 …Kata orang-orang Yahudi itu: “Kami tidak diperbolehkan membunuh seseorang.”

Yesus di wawancarai oleh Pilatus, pada dasarnya Pilatus tidak terlalu tertarik terhadap kasus Yesus. Menurutnya Yesus tidak membahayakan negaranya, dia tidak menentang kerajaan Romawi. Bahkan Pilatus mengetahui bahwa orang Yahudi menyerahkan Yesus hanya sekedar dengki terhadapnya yang semakin hari mendapatkan banyak pengikut dan dapat melongsorkan otoritas mereka.

Matius 27:18 Ia memang mengetahui, bahwa mereka telah menyerahkan Yesus karena dengki.

Dengan sikap bijaksana, Pilatus memberikan pembelaan terhadap Yesus.

Yohanes 18:38b Sesudah mengatakan demikian, keluarlah Pilatus lagi mendapatkan orang-orang Yahudi dan berkata kepada mereka: “Aku tidak mendapati kesalahan apa pun pada-Nya.

Dalam masalah tersebut, Pilatus menemukan bahwa Yesus tidak bersalah. Namun, pembelaan tersebut belumlah cukup, teriakan Yahudi yang haus dalam membunuh setiap Nabi dan Rasul Allah semakin memanaskan suasana. Pilatus pun menitahkan sekedar menyiksa Yesus tanpa menyalibnya.

Yohanes 19:1-3
19:1 Lalu Pilatus mengambil Yesus dan menyuruh orang menyesah Dia.
19:2 Prajurit-prajurit menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya. Mereka memakaikan Dia jubah ungu,
19:3 dan sambil maju ke depan mereka berkata: “Salam, hai raja orang Yahudi!” Lalu mereka menampar muka-Nya.
19:4 Pilatus keluar lagi dan berkata kepada mereka: “Lihatlah, aku membawa Dia ke luar kepada kamu, supaya kamu tahu, bahwa aku tidak mendapati kesalahan apa pun pada-Nya.”
19:5 Lalu Yesus keluar, bermahkota duri dan berjubah ungu. Maka kata Pilatus kepada mereka: “Lihatlah Manusia itu!”

Pilatus telah berusaha mati-matian dalam membela Yesus yang tidak bersalah, Pilatus telah yakin bahwa Yesus memang tidak seharusnya mati. Dalam kegalauan suasana perjalanan sidang seperti itu, istri Pilatus mengirimkan pesan dan memberikan dukungan moril terhadap dirinya.

Matius 27:19 Ketika Pilatus sedang duduk di kursi pengadilan, isterinya mengirim pesan kepadanya: “Jangan engkau mencampuri perkara orang benar itu, sebab karena Dia aku sangat menderita dalam mimpi tadi malam.”

Telah menjadi kebiasaan bagi wali negeri untuk membebaskan satu orang hukuman pada tiap-tiap hari raya atas pilihan orang banyak. Pilatus memanfaatkan momen hari raya tersebut.

Yohanes 18:39 Tetapi pada kamu ada kebiasaan, bahwa pada Paskah aku membebaskan seorang bagimu. Maukah kamu, supaya aku membebaskan raja orang Yahudi bagimu?”

Matius 27:16-17
27:16 Dan pada waktu itu ada dalam penjara seorang yang terkenal kejahatannya yang bernama Yesus Barabas.
27:17 Karena mereka sudah berkumpul di sana, Pilatus berkata kepada mereka: “Siapa yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu, Yesus Barabas atau Yesus, yang disebut Kristus?”

Pilatus menyandingkan Yesus dengan Barabas yang dikatakan sebagai penyamun, harapan Pilatus agar imam-imam Yahudi tersebut mau membebaskan Yesus dan menghukum Barabas. usaha yang sia-sia.

Matius 27:21-22
27:21 Wali negeri menjawab dan berkata kepada mereka: “Siapa di antara kedua orang itu yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu?” Kata mereka: “Barabas.”
27:22 Kata Pilatus kepada mereka: “Jika begitu, apakah yang harus kuperbuat dengan Yesus, yang disebut Kristus?” Mereka semua berseru: “Ia harus disalibkan!”

Mengetahui bahwa semua usahanya sia-sia dan tidak berarti dihadapan kedengkian orang Yahudi, teriakan kemarahan ditambah hasutan dan pemerasan yang mereka lakukan terhadapnya.

Yohanes 19:12 …”Jikalau engkau membebaskan Dia, engkau bukanlah sahabat Kaisar. Setiap orang yang menganggap dirinya sebagai raja, ia melawan Kaisar.”

Pilatus angkat tangan, menyerah dengan semua pembelaan yang dia lakukan terhadap Yesus. Meskipun Pilatus bersikeras untuk tidak menghukum orang yang tidak bersalah dan berbahaya, dan istrinya pun membelanya berdasarkan mimpinya, tetapi Pilatus tidak bisa menentang pengaruh kaum Yahudi. Pilatus menyambut teriakan kaum Yahudi.

Matius 27:24 Ketika Pilatus melihat bahwa segala usaha akan sia-sia, malah sudah mulai timbul kekacauan, ia mengambil air dan membasuh tangannya di hadapan orang banyak dan berkata: “Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini; itu urusan kamu sendiri!”

Yesus dan murid-muridnya tidak dapat menahan kaum Yahudi untuk berniat membunuhnya, pembelaan Pilatus seorang wali negeri ditahan dengan teriakan dan pemerasan kaum Yahudi. Pilatus pun menyerahkan Yesus untuk disalib.

Metode Penyaliban

Prosesi penyaliban atau hukuman salib adalah suatu bentuk hukuman mati dimana terhukum akan dipaku ke dua tangannya di tiang salib, dikarenakan berat tubuhnya maka si terhukum akan mengalami kesulitan nafas karena terhimpit paru-parunya hingga akhirnya hal ini akan mempercepat kematian. Oleh karena itu untuk menambah penderitaan (memperlama proses kematian) maka pada telapak kaki diberikan sandaran papan di kakinya dipakukan kepada papan tersebut (sehingga dengan kaki ini terhukum dapat berdiri menyangga tubuh). Terhukum akan dibiarkan menderita haus dan rasa sakit bahkan gangguan dari mangsa hewan liar. Penyaliban merupakan prosesi hukuman mati yang perlahan-lahan, dan biasanya memakan waktu sampai dengan tiga hari hingga ajalnya tiba berdasarkan catatan sejarah dan dari tinjauan sains serta medis.

Umumnya kematian ditiang salib terjadi karena dua hal:

Pertama, oleh infeksi. Dipakunya tangan dan kaki pada kayu salib membuka peluang masuknya kuman ke dalam tubuh. Tanpa perlindungan antibiotika, kuman tersebut akan berkembang dan menyebar ke seluruh tubuh. Proses kematian karena infekasi seperti ini, biasanya berlangsung 2-3 hari.
Kedua, Kematian disalib terjadi karena kelaparan dan dahaga. Dengan tidak masuknya bahan makanan yang diperlukan untuk kehidupan normal, maka hal tersebut akan mengganggu metabolisme dalam tubuh. Karena tidak adanya suplai makanan, tubuh memobilisasi bahan simpanan yang ada dalam tubuh. Bila simpanan karbohidrat dalam bentuk glikogen yang ada habis, maka protein yang ada di otot digunakan sebagai pembentukan energi yaitu pembentukan ATP ATP merupakan energi “siap pakai”. Bila protein yang ada di otot berkurang sedemikian rupa, maka fungsi sel akan terganggu dan diakhiri dengan kematian. Proses ini biasanya berlangsung 6-7 hari.

Hakikat hukuman salib adalah kejamnya penyiksaan yang dirasakan oleh terhukum, bukan pada kematiannya, melainkan kematian merupakan hal yang diinginkan secepatnya oleh yang menjalaninya. Untuk mempercepat kematian, terhukum akan dipatahkan kedua tulang-tulang kakinya sehingga terhukum tidak punya tempat untuk menyanggah bobot tubuhnya dan kematiannya akan segera terlaksana. Tanpa prosesi ini, terhukum biasanya masih dapat bertahan berhari-hari sebelum menemui ajalnya.

Salib atau shalb berasal dari kata ash-shaliib yang berarti sumsum atau lemak. Dalam bahasa Arab dikatakan ash-haabush-shulubi, yakni orang-orang yang mengumpulkan al­’idhaama (tulang) dan mengeluarkan sumsumnya serta mencampurkannya. Dipatahkannya tulang-tulang kaki (shalb-salib/patahkan tulang mengeluarkan sumsum) merupakan salah satu prosesi yang harus dilakukan kepada terhukum. Manusia yang hanya digantung dan tidak mati diatas kayu salib serta tidak menjalani prosesi penyaliban secara sempurna belum dapat dikatakan telah menjalani hukuman penyaliban.

Yesus Tidak Mati Di Tiang Salib

Sebelumnya Yesus telah diserahkan untuk menjalani penyaliban, tangannya dipaku dan kakinya diberikan penyanggah sebagaimana prosesi penyaliban lazimnya. Fakta-fakta dalam Bible berikut yang akan membuktikan bahwa Yesus tidak mati disalib dalam melalui tahapan penyaliban.

• Lama diatas tiang salib
Hal yang perlu menjadi tinjauan adalah berdasarkan penyebab kematian salib yang telah dipaparkan sebelumnya dari tinjauan medis, bahwa kematian salib baru dapat terlaksana setelah berhari-hari. Berapa lamakah Yesus diatas tiang salib?

Menurut Bible, kaum Yahudi dan Romawi mengikat Yesus di kayu salib jam 12 siang (Matius 27: 46) dan pada jam 3 sore mereka telah menurunkannya, berarti Yesus digantung di kayu salib hanya sekitar tiga jam! Sedangkan berdasarkan tinjauan medis, manusia yang menjalani prosesi penyaliban baru dapat mati minimal dua hari secara perlahan, tidak ada yang mati dalam hitungan jam. Pertanyaannya, mengapa Yesus diturunkan begitu cepat?

Jawabannya karena dalam Taurat ada tertulis hukum:

Ulangan 21:23 Maka janganlah mayatnya dibiarkan semalam-malaman pada tiang itu, tetapi haruslah engkau menguburkan dia pada hari itu juga, sebab seorang yang digantung terkutuk o(eh Allah, janganlah engkau menajiskan tanah yang diberikan Tuhan Allahmu kepadamu menjadi milik pusakamu.

Jadi dikarenakan menurut hitungan hari Yahudi bahwa Hari Raya Sabath telah mulai sejak hari Jum’at petang (jam 18), maka tidak boleh ada najis (mayat orang terkutuk) yang menodai kesucian hari Sabath. Oleh karena itu haruslah tidak boleh ada orang yang tergantung di kayu salib. Sehingga Yesus harus segera mati di kayu salib dan langsung diturunkan.

• Peremukan tulang
Terdesak oleh waktu dalam hukum Yahudi tentang Sabath atau alasan lainnya jika diperlukan untuk mempercepat kematian di tiang salib, para penjagal telah menyiapkan cara dengan mematahkan kaki dan korban akan mati karena lemas dalam satu jam. Ini adalah metode cepat dengan mengabaikan kejamnya penyiksaan yang harus djalani korban.

Yohanes 19:31 …maka datanglah orang-orang Yahudi kepada Pilatus dan meminta kepadanya supaya kaki orang-orang itu dipatahkan dan mayat-mayatnya diturunkan.

Pada saat Yesus dihukum salib ada juga dua penjahat yang dihukum bersertanya, namun tidak seperti Yesus, mereka masih nampak segar atau hidup, sehingga bagi mereka diperlakukan cara cepat untuk menghabisi nyawa mereka dengan mematahkan tulang-tulang kaki mereka yang menyangga tubuh mereka. Apakah prosesi ini juga dilakukan untuk Yesus?

Yohanes 19:33 tetapi ketika mereka sampai kepada Yesus dan melihat bahwa Ia telah mati, mereka tidak mematahkan kaki-Nya,

Perlu diketahui bahwa dasar orang Yahudi dalam menyatakan Yesus telah mati adalah hanya dengan melihat, tidak menyentuh apa lagi merasakan denyut nadinya.

Analoginya jika kita melihat orang yang tergeletak dijalanan, maka setidaknya ada tiga persepsi yang muncul, yaitu bahwa orang tersebut tertidur, pingsan, atau mati. Untuk menghilangkan persepsi bahwa orang tersebut tertidur, cukup dilihat jika orang tersebut benar-benar tidak bergerak karena bagaimanapun orang tertidur tentu masih menggerakkan tubuhnya. Sedangkan untuk mengetahui apakah orang tersebut pingsan atau mati, maka hal yang harus dilakukan adalah tidak cukup dengan melihat saja, melainkan harus menyentuh dan merasakan denyut nadinya. Baru bisa ketahuan tentang keadaan orang tersebut.

Apakah standar tersebut dilakukan untuk mengetahui bahwa Yesus telah benar-benar mati? Tidak sama sekali! Beginilah cara Allah yang direkam oleh Bible dalam menyelamatkan Yesus, yaitu dengan menyerupakan Yesus nampak seperti telah mati dan membiarkan tentara Romawi hanya melihat dan menduga-duga sehingga tidak berkeinginan mematahkan kakinya. Terlihat dalam nubuat.

Mazmur 34:21 Ia melindungi segala tulangnya, tidak satu pun yang patah.

• Penyebab kepingsanan
Mengapa Yesus pingsan dan tidak sadarkan diri begitu cepat sementara dua penyamun yang dihukum bersamanya masih nampak siuman? Jawaban yang logis dapat dilihat dari Bible sendiri.

Yohanes 19:29 Di situ ada suatu bekas penuh anggur asam. Maka mereka mencucukkan bunga karang, yang telah dicelupkan dalam anggur asam, pada sebatang hisop lalu mengunjukkannya ke mulut Yesus.

Kata yang diterjemahkan menjadi anggur asam tersebut tertulis ‘vinegar’, bukan ‘wine’. Vinegar memiliki efek stimulasi yang sementara sebagaimana obat amonia yang dicium dan bahkan dipakai untuk menstimulasi budak-budak pengayuh perahu kapal. Memberikan anggur yang dibumbui dengan Myrrh atau kemenyan kepada orang yang akan dihukum mati sebagai usaha untuk menghilangkan rasa sakit (efek narkotik) adalah sesuai dengan kebiasaan Yahudi.

Vinegar yang disebutkan dalam Injil dalam bahasa Latin disebut Acetum/Acidus/Acere/Acida. Dalam budaya Persia dan Timur Tengah umumnya mengenal Minuman persembahan suci (Haoma Drink). Haoma Drink dibuat dari Juice tanaman Asclepias Acida. Efek minuman ini adalah membuat seseorang menjadi koma (mati suri). Untuk membuat ramuan Haoma Drink ini perlu keahlian agar takarannya tepat dan Orang­orang dari Golongan Yahudi Essene sangat mahir dalam bidang pengobatan/penyembuhan sangat mengenal ramuan minuman ini. Salah satu efek dari ramuan Swallowwort (Asclepias Acida) ini adalah Extreme sweating and a dry mouth, dan ini sesuai dengan apa yang di alami oleh Yesus.

Yohanes 29:28 berkatalah Ia : “Aku haus!”

Dan akibat dari ramuan inilah Yesus menjadi koma (mati suri) di tiang salib. Sehingga Yesus hanya pingsan diatas kayu salib dan tampak seperti telah mati.

• Penusukan lambung
Tentara Romawi tersebut berpikir bahwa Yesus telah mati sehingga tidak perlu mematahkan kakinya. Salah seorang dari mereka kemudian menikam lambungnya dengan tombak.

Yohanes 19:34 tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air.

Adalah rahmat Allah bahwa ketika tubuh manusia tidak kuat menahan rasa sakit atau nyeri yang amat sangat, maka tubuh akan pingsan. Tetapi pada kondisi tubuh yang tidak bergerak, kelelahan dan posisi berdiri yang tidak normal pada kayu salib, membuat aliran darah berjalan lamban. Dengan adanya luka karena penikaman di pinggang, maka sirkulasi darah mengalir teratur kembali. Pperlu diketahui bahwa hal ini (darah mengalir) hanya dapat terjadi pada tubuh yang mana jantungnya masih berdenyut (masih hidup). Dalam Ensiklopedia Biblica, pada artikel “Cross” kolom 960 dikatakan: “Yesus hidup kembali jika penikaman itu benar”.

Dan perlu diperhatikan kalimat “sekejap mengalir keluar” menandakan bahwa darah memancar dengan cepat yang mana hal itu menunjukan bahwa sebenarnya Yesus masih hidup manakala diturunkan dan hanya pingsan (yang disangka telah mati oleh Yahudi dan Orang Romawi). Dr. W.B. Primrose, seorang ahli anastesi RS. Royal Glasgow dalam tulisan beliau dalam harian “Thinker Digest” mengatakan: “Bahwa air tersebut disebabkan oleh adanya gangguan syaraf pada pembuluh darah lokal akibat rangsangan yang berlebihan dari proses penyaliban”.

• Murid rahasia
Banyak yang tidak mengetahui bahwa Yesus memiliki murid atau pengikut rahasia dari golongan Yahudi Essenes. Ya! Yesus memiliki murid rahasia yang juga memiliki misi rahasia untuk merencanakan penyelamatan terhadap dirinya. Mereka telah berperan sejak awal bekerja sama dengan Pilatus. Pilatus secara rahasia menolong Yesus dengan menetapkan waktu hukuman salib pada Jum’at siang (jam 12 siang) (Matius 27 : 46), dan pada jam 3 sore (jam 15) Yesus diturunkan dari Tiang Salib dengan kondisi tampak “mati”.

Kepingsanan Yesus di atas tiang salib sehingga dia tampak mati dengan bantuan ramuan Haoma Drink tidak terlepas dari pekerjaan golongan Essenes tersebut. Para murid rahasia Yesus dari golongan Essenes bekerja sama dengan Pilatus telah memberikan Haoma Drink ini kepada Yesus sebelum dia di paku di tiang salib dan ini merupakan rencana rahasia untuk menolong Yesus. Itulah mengapa Yesus merasa kehausan seperti yang telah diterangkan dimuka. Untuk membuat ramuan Haoma Drink ini perlu keahlian agar takarannya tepat dan orang-orang dari Golongan Yahudi Essene sangat mahir dalam bidang pengobatan/penyembuhan dan sangat mengenal ramuan ini.

Beginilah cara Allah menyelamatkan utusan-Nya melalui tangan pengikut atau murid setianya yang bekerja secara rahasia sehingga Yesus melalui prosesi penyaliban dengan selamat.

• Turun dari kayu salib
Meski Bible menerangkan dengan berbeda-beda namun adalah suatu kepastian bahwa pada saat menjelang jam 15 (3 sore) terjadi gemuruh, guntur, gempa, serta langit pun menjadi gelap. Hal ini adalah suatu mukjizat yang mana Allah menampakan gejala alam ini untuk membuat ciut dan takut hati kaum Yahudi yang saat itu berpesta pora disekitar lokasi tiang-tiang salib, yang serta merta hati mereka menjadi takut akan kutuk Tuhan atas perbuatan mereka dan lari berhamburan menyelamatkan diri.

Peristiwa ini adalah rencana Allah yang karenanya para murid rahasia Yesus (bukan yang 12 orang dimana mereka semua melarikan diri sewaktu pengadilan karena takut) dapat mendekati tiang salib, menurunkan jasad Yesus, dan mengurus Yesus. Adalah Nikodemus dan Yusuf Arimatea (murid Yesus dari golongan Essenes) yang telah meminta jasad Yesus kepada Pilatus.

Yohanes 19:38 Sesudah itu Yusuf dari Arimatea — ia murid Yesus, tetapi sembunyi-sembunyi karena takut kepada orang-orang Yahudi — meminta kepada Pilatus, supaya ia diperbolehkan menurunkan mayat Yesus. Dan Pilatus meluluskan permintaannya itu. Lalu datanglah ia dan menurunkan mayat itu.

Nikodemus, Yusuf Arimatea, Maria Magdalena, dan murid-murid rahasia lainnya dari Essenes lah yang menolong dan mengurus tubuh Yesus setelah diturunkan dari tiang salib. Perlu diingat bahwa kondisi dan situasi saat itu sangat genting, karena jika orang Yahudi mengetahui bahwa Yesus masih hidup maka mereka akan mencoba untuk membunuh untuk yang kedua kali.

Sampai disini kita telah sampai pada fakta dengan kesimpulan yang mengejutkan, fakta yang menyeramkan bagi keimanan Kristiani, kesimpulan yang tidak pernah terbayang sedikitpun dalam pemikiran setiap pribadi Kristen. Kesimpulan ini telah menghapuskan kebanggaan Kristiani terhadap dogma keselamatan dalam penebusan dosa oleh penyaliban, Yesus turun dari atas kayu salib dalam keadaan selamat!

Penyembuhan Dalam Kuburan

Dengan amat menjaga kerahasiaan misi penyelamatan, Yusuf Arimatea dan Nikodemus juga Magdalena membawa jasad Yesus yang telah dibungkus dalam kain kafan menuju ruang kubur dan meletakan Yesus di sana serta menutup pintu kubur dengan batu. Bentuk kuburan Yahudi masa itu tidaklah seperti model kuburan sekarang pada umumnya. Kuburan tersebut seperti ruangan bawah tanah dimana terdapat celah-celah sehingga udara bebas keluar masuk. Jim Bishop dalam buku “The Day Christ Died”, mengatakan bahwa pekuburan tersebut berukuran lebar 5 kaki, tinggi 7 kaki dan kedalaman 15 kaki dengan balkan-balkan di dalamnya yang bagi orang-orang gelandangan pasti mau memakainya sebagai tempat tinggalnya.

Mayat tidak ditanam ke dalam tanah, melainkan diletakkan di atas batu yang ada di dalam ruang kubur terletak di gua ataupun yang sengaja dibangun berbentuk semacam tempurung dan mempunyai pintu. Bentuk kuburan seperti ini memungkinkan orang-orang bebas memasukinya, seperti yang dilakukan Nikodemus.

Yohanes 19:39 Juga Nikodemus datang ke situ. Dialah yang mula-mula datang waktu malam kepada Yesus. Ia membawa campuran minyak mur dengan minyak gaharu, kira-kira lima puluh kati beratnya.

Nikodemus datang dan memasuki kuburan Yesus pada waktu malam. Pertanyaannya mengapa Nikodemus datang kekuburan dengan membawa ramu-ramuan? Yusuf dan Nikodemus adalah kaum Essenes yang terpelajar khususnya dibidang ilmu pengobatan. Merekalah yang merawat dan mengolesi tubuh Yesus dengan salep obat untuk menyembuhkan luka-luka akibat hukuman. Mereka membawa banyak sekali (100 Pounds) rempah-rempah obat myrr dan gaharu untuk diurapi (dilulurkan) ke tubuh Yesus yang terluka. Hal yang sama dilakukan oleh Maria Magdalena.

Markus 16:1 Setelah lewat hari Sabat, Maria Magdalena dan Maria ibu Yakobus, serta Salome membeli rempah-rempah untuk pergi ke kubur dan meminyaki Yesus.

Pertanyaannya adalah Mengapa Maria Magdalena pergi ke sana? Untuk meminyaki Yesus. Dalam bahasa Ibrani meminyaki adalah ‘masaha’ yang berarti mengusap, memijat, meminyaki. Apakah orang-orang Yahudi memijat mayat setelah tiga hari? Jawabannya tidak! Lalu mengapa seorang Yahudi ingin memijat mayat yang sudah membusuk setelah tiga hari?

Kita tahu bahwa setelah tiga jam meninggal, maka mayat akan menjadi kaku. Dalam tiga hari, mayat akan membusuk dimana sel-sel tubuh akan pecah dan terurai. Jika seseorang menggosok mayat yang sudah membusuk maka mayat tersebut pasti akan hancur berantakan. Apakah penggosokan itu masuk akal? Tidak! Tidak jika hal itu dilakukan untuk jenazah yang tidak bernyawa, tapi sangat masuk akal jika hal tersebut dilakukan untuk manusia yang sedang menjalani proses pengobatan dalam peyembuhan dari siksaan-siksaan yang diterimanya sebelumnya.

Demikianlah Jasad Yesus yang telah dilulur obat rempah ditidurkan di dalam ruang kubur yang berbentuk gua dan berada dalam perawatan dari murid-murid rahasianya.

Penyamaran Di Hadapan Maria

Pada hari minggu pagi Maria Magdalena berjalan sendirian menuju kuburan Yesus. Manakala Maria tiba dikuburan, dia terkejut karena melihat batu penutup pintu kubur sudah bergeser sehingga kuburan terbuka, dan di dalam kubur tersebut tubuh Yesus sudah tiada.

Yohanes 20:1 Pada hari pertama minggu itu, pagi-pagi benar ketika hari masih gelap, pergilah Maria Magdalena ke kubur itu dan ia melihat bahwa batu telah diambil dari kubur.

Tentu Yesus lah yang telah menggeser batu tersebut karena dia telah sadar dan siuman dari komanya serta sudah hampir pulih dari kesakitan yang dia alami selama ini. Yesus tidak pergi kemana-mana, ia masih ada disekitar pekuburan itu dan melihat Maria Magdalena yang kebingungan.

Yohanes 20:15 Kata Yesus kepadanya: “Ibu, mengapa engkau menangis? Siapakah yang engkau cari?” Maria menyangka orang itu adalah penunggu taman, lalu berkata kepada-Nya: “Tuan, jikalau tuan yang mengambil Dia, katakanlah kepadaku, di mana tuan meletakkan Dia, supaya aku dapat mengambil-Nya.”

Pertanyaannya, mengapa Maria menyangka sosok Yesus sebagai penunggu taman? Apakah orang yang baru sadar dari pingsannya dengan penuh luka ditubuhnya tampak seperti penunggu taman? Jawabannya “Tidak!”. Yesus terlihat seperti penunggu taman karena dia sedang menyamar. Untuk apakah Yesus menyamar? Karena dia takut ketahuan terhadap orang Yahudi, penjaga yang disuruh untuk menjaga kuburan Yesus juga masih ada disekitar sana.

Mengapa Yesus harus takut ketahuan terhadap orang Yahudi? Karena dia belum mati! Yesus tidak ingin ketahuan penjaga tersebut bahwa dirinya masih hidup, karena jika hal itu terjadi, maka orang Yahudi akan mencoba untuk membunuh dan menyalib dirinya untuk kedua kalinya. Jika Yesus bangkit dari kematian, maka Yesus tidak punya alasan lain untuk menyamar dan takut untuk pencobaan pembunuhan yang kedua kalinya.

Yesus tidak ingin Maria diliputi kebingungan dan kesedihan lebih lama, dia pun menjelaskan kepada Maria siapa dirinya yang berdiri dihadapan Maria cukup dengan menyebut nama Maria sehingga Maria langsung mengetahui bahwa yang dihadapannya adalah sosok gurunya.

Yohanes 20:16 Kata Yesus kepadanya: “Maria!” Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: “Rabuni!”, artinya Guru.

Maria gembira dan bahagia setelah mengetahui bahwa sosok yang dihadapannya adalah Yesus yang telah siuman. Maria langsung ingin merangkul gurunya, tapi ditahan oleh Yesus.

Yohanes 20:17 Kata Yesus kepadanya: “Janganlah engkau memegang Aku, …

Mengapa Yesus melarang Maria menyentuh dirinya? Pertama karena tubuh beliau meski sudah pulih tentu masih mengalami nyeri akibat penyiksaan fisik sebelumnya, dan kedua beliau tidak ingin ada orang lain yang mencurigai penyamarannya. Kemudian Yesus berkata.

Yohanes 20:17 …sebab Aku belum pergi kepada Bapa,...

Maksud Yesus tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah bahwa dirinya masih hidup dan belum mengalami kematian. Yesus berkata dia belum pergi kepada Bapa, dia belum meninggal, dia masih hidup.

Menemui Murid-Muridnya

Setelah peristiwa itu, Maria pergi kepada kesebelas murid Yesus untuk menyampaikan berita tersebut. Yesus sendiri bertemu dengan dua orang muridnya yang sedang menuju Emaus. Yesus belum membuka penyamarannya kepada mereka, mereka bercakap-cakap selama perjalanan.

Lukas 24:19 Kata-Nya kepada mereka: “Apakah itu?” Jawab mereka: “Apa yang terjadi dengan Yesus orang Nazaret. Dia adalah seorang nabi, yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan di hadapan Allah dan di depan seluruh bangsa kami.

Perlu diketahui bahwa murid-murid Yesus saja mengakui Yesus hanyalah seorang Nabi dan tidak pernah mengklaim gurunya tersebut sebagai Tuhan. Lanjut cerita, mereka sudah hampir sampai ke Emaus dan mengajak Yesus yang mereka kira orang asing tersebut menginap dan makan bersama mereka.

Lukas 24:30 Waktu Ia duduk makan dengan mereka, Ia mengambil roti, mengucap berkat, lalu memecah-mecahkannya dan memberikannya kepada mereka.

Dari cara Yesus mengucapkan berkat dan membagikan makanan barulah tersadar ke dua murid Yesus bahwa yang selama ini ada bersama mereka adalah guru mereka, namun manakala mereka menyadari hal ini, Yesus telah berlalu dan pergi meninggalkan mereka. Mereka mengabarkan peristiwa yang mereka alami kepada murid lainnya, namun murid lainnya tidak percaya.

Markus 16:13 Lalu kembalilah mereka dan memberitahukannya kepada teman-teman yang lain, tetapi kepada mereka pun teman-teman itu tidak percaya.

Singkat cerita, setelah semua kejadian tersebut, Yesus pun menemui dan menampakkan dirinya dengan jelas kepada murid-muridnya.

Lukas 24:36 Dan sementara mereka bercakap-cakap tentang hal-hal itu, Yesus tiba-tiba berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata kepada mereka: “Damai sejahtera bagi kamu!”

Yesus telah menampakkan diri kepada murid-muridnya, tapi murid-muridnya tidak percaya. Alasannya adalah karena dalam benak dan pikiran mereka bahwa Yesus telah mati sehingga berpikir bahwa sosok dihadapan mereka adalah hantu.

Lukas 24:37 Mereka terkejut dan takut dan menyangka bahwa mereka melihat hantu.

Mereka tidak mengetahui apa yang telah terjadi terhadap Yesus dan penyelamatan rahasia yang direncanakan terhadapnya, karena mereka tidak berada disisi Yesus menjelang penyaliban melainkan melarikan diri. Sehingga sangat wajar jika mereka mengira Yesus adalah hantu, untuk itu Yesus pun meyakinkan mereka.

Lukas 29:39-40
24:39 Lihatlah tangan-Ku dan kaki-Ku: Aku sendirilah ini; rabalah Aku dan lihatlah, karena hantu tidak ada daging dan tulangnya, seperti yang kamu lihat ada pada-Ku.”
24:40 Sambil berkata demikian, Ia memperlihatkan tangan dan kaki-Nya kepada mereka.

Kemudian pada akhirnya murid-muridnya tersebut percaya bahwa sosok yang dihadapan mereka tersebut adalah Yesus yang masih hidup dan selamat dari penyiksaan dan penyaliban.

Tanda Nabi Yunus

Perhatikan, kronologis semua peristiwa sejauh ini adalah penggenapan atas apa yang telah dikatakan oleh Yesus jauh sebelum peristiwa penyaliban. Manakala orang-orang Yahudi tetap tidak mau mengerti dan menerima misi kerasulan beliau, dan orang-orang Yahudi itu tetap meminta tanda-tanda ajaib kepada Yesus.

Lukas 11:29-30
11:29 Ketika orang banyak mengerumuni-Nya, berkatalah Yesus: “Angkatan ini adalah angkatan yang jahat. Mereka menghendaki suatu tanda, tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus.
11:30 Sebab seperti Yunus menjadi tanda untuk orang-orang Niniwe, demikian pulalah Anak Manusia akan menjadi tanda untuk angkatan ini.

Matius 12:40 Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam.

Jadi bagi orang Yahudi tiada tanda ajaib akan diberikan kecuali tanda ajaib yang seperti mukjizat Nabi Yunus. Bagaimanakah tanda ajaib Nabi Yunus itu? Seperti kita ketahui bahwa Nabi Yunus diutus oleh Allah, dan seperti yang terdapat dalam riwayat Al-Qur’an dan Injil bahwa Nabi Yunus berlayar dengan sebuah kapal, ditengah Samudera datang badai dan orang-orang dikapal percaya bahwa untuk membuang sial maka harus ada satu orang yang dilemparkan kelaut. Singkat cerita Nabi Yunus lah yang dilemparkan ke laut dalam kondisi HIDUP. Dan di laut Nabi Yunus ditelan oleh Ikan Paus dan masuk ke dalam perut Ikan, apakah beliau mati? Tidak! Karena di dalam perut ikan Nabi Yunus berdo’a, apakah orang yang telah mati perlu berdo’a mohon selamat? tentu tidak. Setelah tiga hari tiga malam di dalam perut Ikan, maka Ikan itu memuntahkan keluar Nabi Yunus dari dalam perutnya, apakah dalam keadaan mati? tidak! beliau tetap HIDUP, dan beliau menemui orang Ninewe dan mereka pun menerima Nabi Yunus.

Jadi perhatikanlah tanda ajaib Nabi Yunus, beliau di hukum dalam keadaan HIDUP, di dalam perut ikan dalam keadaan HIDUP, dan keluar dari perut ikan dalam keadaan HIDUP. Inilah tanda ajaib yang sama yang di alami Yesus, Yesus dihukum dalam keadaan HIDUP, beliau di masukan ke dalam perut bumi (kuburan gua) dalam keadaan HIDUP, dan beliau siuman dari pingsan dan keluar dari perut bumi dalam keadaan HIDUP.

Reaksi Yang Berbeda

Ada perbedaan reaksi yang dapat anda rasakan antara Maria Magdalena dengan kesebelas murid Yesus mengenai “kebangkitan” Yesus. Maria Magdalena adalah orang pertama yang menemui Yesus dalam keadaaan sadar dari setelah turunya Yesus diatas kayu salib. Perhatikan reaksi Maria setelah mengetahui bahwa sosok yang berbicara dengannya di pemakaman adalah Yesus.

Yohanes 20:16 Kata Yesus kepadanya: “Maria!” Maria berpaling dan berkata kepada-Nya dalam bahasa Ibrani: “Rabuni!”, artinya Guru.

Maria gembira dan bahagia setelah mengetahui bahwa sosok yang dihadapannya adalah Yesus yang telah siuman. Maria langsung ingin merangkul gurunya, tapi ditahan oleh Yesus.

Yohanes 20:17 Kata Yesus kepadanya: “Janganlah engkau memegang Aku, …

Bandingkan dengan reaksi kesebelas murid Yesus setelah menemui Yesus.

Lukas 24:37 Mereka terkejut dan takut dan menyangka bahwa mereka melihat hantu.

Kesebelas muridnya justru terkejut, takut, penuh keraguan dan bahkan mengira dihadapan mereka adalah hantu Yesus. Pertanyaannya, mengapa terjadi perbedaan reaksi yang bertolak belakang antara Maria dengan kesebelas murid Yesus tersebut?

Jawabannya jelas adalah karena Maria Magdalena mengetahui bahwa Yesus masih hidup sewaktu turun dari kayu salib, dia dengan setia merawatnya bersama murid rahasia lainnya dalam pekuburan. Maria adalah saksi yang melihat penyaliban Yesus, sebagai murid rahasia bersama dengan Yusuf dan Nikodemus yang kemungkinan telah bekerja sama dengan Pontius Pilatus untuk rencana penyelamatan. Sehingga sangat wajar jika dia gembira melihat guru yang dia rawat akhirnya siuman dan sadarkan diri.

Berbeda dengan kesebelas muridnya, mereka bukan saksi yang melihat Yesus dari dekat, kemungkinan hanya dari jauh ataupun hanya mendengar desas-desus dari orang sekitar. Apalagi mereka sama sekali tidak mengetahui adanya rencana penyelamatan Pontius Pilatus dengan murid rahasia dari golongan Esenes tersebut karena mereka sudah terlanjur lari ketakutan sewaktu penangkapan Yesus untuk pengadilan.

Markus 14:50 Lalu semua murid itu meninggalkan Dia dan melarikan diri.

Sehingga sangat wajar jika mereka merasa heran, ketakutan, dan tidak dapat menerima fakta begitu saja bahwa Yesus masih hidup yang telah berbicara dengan mereka.

Inilah Faktanya

Semua fakta-fakta diatas yang disadur berdasarkan kronologis dalam Bible sendiri secara nyata telah menunjukkan bahwa Yesus tidak mati di tiang salib, melainkan selamat dari penyaliban. Berikut kami uraikan fakta-fakta tersebut kembali.

• Fakta pertama, Yesus tidak mati di tiang salib karena dia tidak ingin mati disalib!

Yesus bersama muridnya melakukan strategi pertahanan dan penyerangan dalam menahan penangkapan orang Yahudi, dia berdoa di taman Getsemani meminta dibebaskan dari cawan kematian salib, dia membela diri dihadapan Imam Besar dan Pilatus.
• Fakta kedua, Yesus tidak mati di tiang salib karena dia orang yang benar! Pilatus tahu bahwa Yesus orang benar sehingga tidak seharusnya mati disalib, istri Pilatus pun mengetahui hal yang sama lewat mimpinya. Yesus telah berdoa dengan penuh kesalehan dibebaskan dari kematian salib, doa orang yang benar sangat besar kuasanya.
• Fakta ketiga, Yesus tidak mati di tiang salib karena dia hanya sebentar di atas kayu salib! Menurut pengamatan medis bahwa secara normal manusia baru dapat mati di tiang salib setelah mengalami proses berhari-hari, Pilatus mengetahui hal ini sehingga kaget sewaktu mendengar berita tentaranya bahwa Yesus telah mati hanya dalam waktu beberapa jam.
• Fakta keempat, Yesus tidak mati ditiang salib karena tulang kakinya tidak dipatahkan! Peremukan tulang adalah alternatif tercepat untuk mematikan seorang yang digantung di kayu salib, jika tidak maka kematian masih dapat ditunda berhari-hari. Yesus tidak diremukkan kakinya karena dikira telah mati dan sesuai dengan nubuat.
• Fakta kelima, Yesus tidak mati ditiang salib karena dia pingsan sehingga tampak mati! Semua telah diatur sebagai rencana penyelamatan murid rahasia Yesus. Penusukan lambung Yesus sehingga memancar darah dan air membuktikan bahwa organ-organ tubuhnya masih berfungsi.
• Fakta keenam, Yesus tidak mati ditiang salib dan turun dengan selamat! Semua hal yang telah terjadi pada Yesus saat melalui proses penyaliban adalah pembuktian bahwa Yesus masih bernyawa sewaktu turun diatas kayu salib.
• Fakta ketujuh, Yesus tidak mati ditiang salib karena menjalani perawatan dalam kuburan! Bentuk kuburan yang memungkinkan untuk ditinggali makhluk bernyawa serta datangnya murid-murid rahasia Yesus membawa ramu-ramuan dan rempa-rempa menunjukkan bahwa Yesus yang bernyawa sedang dalam masa penyembuhan.
• Fakta kedelapan, Yesus tidak mati ditiang salib karena dia menisbahkan tanda Nabi Yunus untuk dirinya! Yunus masuk dalam perut ikan paus hidup-hidup, menjalani kehidupan sementara dalam perut ikan paus hidup-hidup, dan keluar dari perut ikan paus dalam keadaan hidup. Begitu juga dengan Yesus, masuk dalam perut bumi hidup-hidup, menjalani kehidupan sementara dalam perut bumi hidup-hidup, dan keluar dari perut bumi dalam keadaan hidup.
• Fakta kesembilan, Yesus tidak mati di tiang salib dapat dilihat dari perbedaan reaksi orang yang dia temui! Maria Magdalena bahagia dan gembira melihat Yesus, karena Yesus sadar dari koma. Berbeda dengan kesebelas muridnya ketakutan dan penuh keraguan melihat Yesus, karena dalam pikiran mereka Yesus telah mati dan bangkit sebagai hantu.
• Fakta kesepuluh, Yesus tidak mati di tiang salib dan tidak bangkit dari kematian! Berdasarkan pemaparan cermat diatas.

Demikianlah fakta tak terbantahkan dari Bible sendiri bahwa Yesus tidak lah mati ditiang salib, melainkan selamat dengan cara yang menakjubkan. Dengan begini gugurlah sudah harapan dan modal Kristiani yang mempercayai Yesus harus mati di tiang salib untuk menebus dosa-dosa dan bangkit lagi dari matinya. Penelitian secara cermat dan objektif menggunakan sumber Kristen sendiri telah memunahkan dogma yang mereka anut bertahun-tahun dan dipercaya sebagai satu-satunya faktor memperoleh keselamatan.

Paulus berkata:
I Korintus 15:14 Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu.

Dengan begini, kepercayaan Kristiani terhadap berbagai dogma Kristen sia-sia belaka. Penyelamatan melalui darah Yesus hanyalah mitos publik yang tidak akan pernah dirasakan oleh siapapun. Kebangkitan sebagai bentuk kemenangan hanyalah kisah fiktif yang dibungkus dengan kebohongan dan didramatisir sedemikian rupa. Kita telah sampai pada kesimpulan akhir yang menjanjikan. Tidak ada kematian di tiang salib, tidak ada penyelamatan. Tidak ada kebangkitan, tidak ada kekristenan!

Sumber :Kesaksian mualaf

0 komentar:

Poskan Komentar

Temukan Kemudahan dan Keindahan Islam Setelah Membaca Artikel Kami. Berilah Komentar Atau Tinggalkan Pertanyaan Anda Sehingga Kita dapat Memperkuat Silaturrahim. Jazaakallahu Ahsanal Jazaa'

Populer Mingguan