+44(0) 1234 567 890 info@domainname.com

Kamis, 06 September 2012

Profil Ibnu Atho'illah As Sakandari

03.13

Share it Please

Nama beliau adalah Ahmad ibnu Muhammad ibnu atho'illah As-Sakandari .Tempat kelahiranya di Iskandariyah Mesir pada tahun 648 H / 1250M , dan wafat pada tahun 1309 M.Beliau diberi julukan Al-Iskandai atau As-Sakandari dinisbatkan kepada tempat kelahiranya .

Sejak kecil beliau gemar belajar. menimba ilmu dari berbagai guru dan ulama. Guru yang paling terkenal adalah Abu Al-Abbas ibnu Ali Al-Anshari Al-Mursi, murid dari Abu Al-Hasan Al-Syadzili, pendiri thoriqoh Al-Syadzili .Dalam bidang fiqih beliau bermazhab Maliki, sedangkan di bidang tasawuf pengikut sekaligus tokoh thoriqoh Al-Syadzili.

Syekh Ibnu Atho'illah termasuk ulama yang produktif. Tidak kurang dari 20 karya tulisnya yang pernah dihasilkan. Mulai bidang tasawuf, tafsir, aqidah, hadits, nahwu, dan ushul fiqh. Dan karya tulisnya yang sangat terkenal adalah kitab AlHikam. Kitab ini disebut sebagai magnum opusnya. Kitab tersebut sudah beberapa kali disyarah.Di antara pensyarah tersebut adalah Muhammad bin Ibrahim ibnu Ibad A-Rasyid-Rundi, Syekh Ahmad Zarruq, dan Ahmad ibnu Ajiba.

Kitab kitab lain yang ditulis adalah Al-Tanwir fii Isqoth Al-Tadbir, Unwan At-Taufiq fi'dab Al-Thariq, Muftah Al-Falah dan Al-Qoul Al-Mujarrad fil Al-Islam Al-Mufrad. Yang terakhir ini merupakan tanggapan terhadap Syaikh Ibnu Taimiyyah mengenai persoalan tauhid.
Kedua ulama besar tersebut hidup sezaman, dan konon kabarnya beberapa kali terlibat dalam dialog yang berkualitas tinggi dan sangat santun. Ibnu Taimiyyah adalah sosok ulama yang tidak menyukai praktek sufisme. Sedangkan Ibnu Atho'illah dan para pengikutnya melihat tidak semua jalan sufisme itu salah. Karena mereka juga ketat dalam urusan syariat.

Ibnu Atho'illah dikenal sebagai sosok ulama yang dikagumi dan bersih. Beliau menjadi panutan bagi banyak orang yang meniti jalan menuju Allah. Menjadi teladan bagi orang
orang yang ikhlas, dan Imam bagi para juru nasihat.

Beliau dikenal sebagai master atau syekh ketiga dalam komunitas thariqoh Syadzili setelah pendirinya Abu Al-Hasan Asy-Syadzili dan penerusnya Abu Al-Abbas Al-Mursi. Dan Syekh Ibnu Atho'illah inilah yang pertama menghimpun ajaran ajaran, pesan pesan, doa dan biografi keduanya, sehingga khazanah thoriqoh Syadziliyah tetap terjaga. 

 Meskipun beliau merupakan tokoh sentral dalam sebuah Thoriqoh, namun aktifitas dan pengaruh serta buku bukunya dibaca luas oleh kaum muslimin dari berbagai kelompok, bersifat lintas madzhab dan thoriqoh, terutama kitab Al-Hikam.

Kitab Al-Hikam ini merupakan karya utama Ibnu Atha’illah, yang sangat populer di dunia Islam selama berabad-abad, sampai hari ini. Kitab ini juga menjadi bacaan utama di hampir seluruh pesantren di Nusantara. Syekh Ibnu Atho’illah menghadirkan Kitab Al-Hikam dengan sandaran utama pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Guru besar spiritualisme ini menyalakan pelita untuk menjadi penerang bagi setiap salik, menunjukkan segala aral yang ada di setiap kelokan jalan, agar kita semua selamat menempuhnya. Kitab Al-Hikam merupakan ciri khas pemikiran Ibnu Atho’illah, khususnya dalam paradigma tasawuf. Di antara para tokoh sufi yang lain seperti Al-Hallaj, Ibnul Arabi, Abu Husen An-Nuri, dan para tokoh sufisme falsafi yang lainnya, kedudukan pemikiran Ibnu Atha’illah bukan sekedar bercorak tasawuf falsafi yang mengedepankan teologi. Tetapi diimbangi dengan unsur-unsur pengamalan ibadah dan suluk, artinya di antara syari’at, tarikat dan hakikat ditempuh  dengan cara metodis. Corak Pemikiran Ibnu Atha’illah dalam bidang tasawuf sangat berbeda dengan para tokoh sufi lainnya. Ia lebih menekankan nilai tasawuf  pada ma’rifat. 

Pemikiran – pemikiranya

Pertama, tidak dianjurkan kepada para muridnya untuk meninggalkan profesi dunia mereka. Dalam hal pandangannya mengenai pakaian, makanan,  dan kendaraan yang layak dalam kehidupan yang sederhana akan menumbuhkan rasa syukur kepada Allah dan mengenal rahmat Illahi.  

"Meninggalkan dunia yang berlebihan akan menimbulkan hilangnya rasa syukur. Dan berlebih-lebihan dalam memanfaatkan dunia akan membawa kepada kezaliman. Manusia sebaiknya menggunakan nikmat Allah SWT dengan sebaik-baiknya sesuai petunjuk Allah dan Rasul-Nya," kata Ibnu Atho'illah.

Kedua, tidak mengabaikan penerapan syari’at Islam. Ia adalah salah satu tokoh sufi yang menempuh jalur tasawuf hampir searah dengan Al-Ghazali, yakni suatu tasawuf yang berlandaskan kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Mengarah kepada asketisme, pelurusan dan penyucian jiwa (tazkiyah an-nafs), serta pembinaan moral (akhlak), suatu nilai tasawuf yang dikenal cukup moderat.

Ketiga,  zuhud tidak berarti harus menjauhi dunia karena pada dasarnya zuhud adalah mengosongkan hati selain daripada Tuhan. Dunia yang dibenci para sufi adalah dunia yang melengahkan dan memperbudak manusia. Kesenangan dunia adalah tingkah laku syahwat, berbagai keinginan yang tak kunjung habis, dan hawa nafsu yang tak kenal puas. "Semua itu hanyalah permainan (al-la’b) dan senda gurau (al-lahwu) yang akan melupakan Allah. Dunia semacam inilah yang dibenci kaum sufi," ujarnya.

Keempat,  tidak ada halangan bagi kaum salik untuk menjadi miliuner yang kaya raya, asalkan hatinya tidak bergantung pada harta yang dimiliknya. Seorang salik boleh mencari harta kekayaan, namun jangan sampai melalaikan-Nya dan jangan sampai menjadi hamba dunia. Seorang salik, kata Atha'illah, tidak bersedih ketika kehilangan harta benda dan tidak dimabuk kesenangan ketika mendapatkan harta.

Kelima, berusaha merespons apa yang sedang mengancam kehidupan umat, berusaha menjembatani antara kekeringan spiritual yang dialami orang yang hanya sibuk dengan urusan duniawi, dengan sikap pasif yang banyak dialami para salik. 

Keenam, tasawuf adalah latihan-latihan jiwa dalam rangka ibadah dan menempatkan diri sesuai dengan ketentuan Allah. Bagi Syekh Atha'illah, tasawuf memiliki empat aspek penting yakni berakhlak dengan akhlak Allah SWT, senantiasa melakukan perintah-Nya, dapat menguasai hawa nafsunya serta berupaya selalu bersama dan berkekalan dengan-Nya secara sunguh-sungguh.

Ketujuh, dalam kaitannya dengan ma’rifat Al-Syadzili, ia berpendapat bahwa ma’rifat adalah salah satu tujuan dari tasawuf yang dapat diperoleh dengan dua jalan; mawahib, yaitu Tuhan memberikannya tanpa usaha dan Dia memilihnya sendiri orang-orang yang akan diberi anugerah tersebut; dan makasib, yaitu ma’rifat akan dapat diperoleh melalui usaha keras seseorang, melalui ar-riyadhah, dzikir, wudhu, puasa ,sahalat sunnah dan amal shalih lainnya.

Jangan Lupa meninggalkan komentar, saran dan kritik anda kepada kami.

0 komentar:

Poskan Komentar

Temukan Kemudahan dan Keindahan Islam Setelah Membaca Artikel Kami. Berilah Komentar Atau Tinggalkan Pertanyaan Anda Sehingga Kita dapat Memperkuat Silaturrahim. Jazaakallahu Ahsanal Jazaa'

Populer Mingguan