+44(0) 1234 567 890 info@domainname.com

Jumat, 21 September 2012

Istri-istri Nabi pun Saling Cemburu

07.27

Share it Please

Siapa bilang kalau taaddud (poligami) akan menghilangkan kecemburuan???? Hatta (bahkan), istri-istri Nabi pun saling mencemburui. Nabi pun pernah ditegur oleh Allah, karena istri-istri Nabi meminta Nabi mengharamkan madu.

Bahwa Nabi shalallahu alaihi wasallam berada di rumah Zainab binti Jahsy, lalu di sana beliau meminum madu. Kemudian aku dan Hafshah bersepakat, siapa pun di antara kami berdua yang ditemui Nabi saw. ia harus mengatakan kepada beliau: Sesungguhnya aku mencium bau maghafir (pohon bergetah yang rasanya manis tapi berbau tidak sedap) darimu, apakah engkau telah memakannya?

Kemudian beliau menemui salah seorang dari kami, dan segera melontarkan pertanyaan tersebut kepada beliau. Beliau menjawab: Tidak! Tetapi aku baru saja meminum madu di rumah Zainab binti Jahsy. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Maka turunlah firman Allah: Mengapa kamu mengharamkan apa yang dihalalkan Allah kepadamu sampai firman-Nya: Jika kamu berdua bertobat, yaitu Aisyah ra. dan Hafshah. Sedang firman Allah: Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang dari istri-istrinya (Hafshah) tentang suatu peristiwa ialah berkenaan dengan sabda beliau: Melainkan aku baru saja meminum madu (hadits riwayat Muslim diriwayatkan oleh Aisyah)

Dilain cerita, istri-istri Nabi pun cemburu kepada Shofiyyah bintu Huyay,Shafiyyah berkata: ”Suatu saat sampai kepadaku bahwa Aisyah dan Hafshah : ”Kami lebih mulia di sisi Rasulullah Shollallahu ’Alayhi wa Sallam dibanding Shafiyyah karena kami adalah putri-putri pamannya”, maka aku adukan hal itu kepada Rasulullah Shollallahu ’Alayhi wa Sallam, maka Rasulullah Shollallahu ’Alayhi wa Sallam bersabda : ”Kenapa tidak engkau katakan kepada keduanya” Bagaimana kalian berdua lebih baik dariku, sedangkan suamiku adalah Muhammad, bapakku Harun, dan pamanku Musa”.(Diriwayatkan oleh Tirmidzy dalam Jami’nya sebagaimana dalam Siyar 2/233).

Artinya, cemburu adalah manusiawi, dan Allah mengetahui hal itu, namun hal ini tidak serta merta menghalangi syariatnya untuk menentukan bolehnya taaddud dalam Islam.

Alangkah mulianya, kedudukan seorang wanita ketika resmi menjadi seorang istri (hatta yang nomer sekian), dan sangat wajar bila dalam kondisi diduakan itu muncul perasaan cemburu.

Ketika kita melihat istri-istri Nabi (radhiyallahu anhum), mereka adalah wanita-wanita yang terpilih menjadi pendamping seorang manusia yang paling mulia disisi Allah, sang Khalik.

Bagaimana kedudukan mereka?, tentu saja sangat terhormat, didunia ini dan di akhirat nanti, kepada merekalah kaum muslimin meminta nasihat (sebagai ummul mukminin, terutama Aisyah radhiyallahu anha), namun hal ini tidak menghilangkan rasa kemanusiaan mereka (yakni cemburu), dan ini membuktikan bahwa syariat agama ini berjalan diatas fitrahnya, tanpa harus menghilangkannya (maksudnya, setelah menjadi istri Nabi mereka kehilangan kecemburuannya).

Maka, adil yang dimaksud dalam ayat poligami, yakni:"Artinya : Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja" [An-Nisa : 3]

Dan dalam ayat yang lain Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

"Artinya : Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istri (mu) walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian" [An-Nisa : 129], maka hal ini sebagaimana yang dijawab oleh Syaikh Bin Baz (rahimahullah), yakni dengan meriwayatkan hadits dari Aisyah:

"Artinya : Ya Allah inilah pembagian giliran yang mampu aku penuhi dan janganlah Engkau mencela apa yang tidak mampu aku lakukan" [Hadits Riwayat Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban dan Hakim], do'a dari Rasulullah yang mengadu kepada Allah mengenai masalah pembagian waktu kepada istri-istrinya.

Sebagai penutup, berikut firman Allah:

Artinya:
“Dan tidaklah patut bagi seorang mukmin dan tidak pula bagi seorang mukminah bila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, untuk mengambil pilihan lain tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah ia telah sesat, dengan kesesatan yang nyata”. (Al Ahzab 36).

0 komentar:

Poskan Komentar

Temukan Kemudahan dan Keindahan Islam Setelah Membaca Artikel Kami. Berilah Komentar Atau Tinggalkan Pertanyaan Anda Sehingga Kita dapat Memperkuat Silaturrahim. Jazaakallahu Ahsanal Jazaa'

Populer Mingguan